Satelit Hebat, DM Lebih Jahat

Satelit Hebat, DM Lebih Jahat

ILUSTRASI Satelit Hebat, DM Lebih Jahat.-Arya/AI-Harian Disway-

AMERIKA SERIKAT itu kaya. Begitu kaya hingga perang sering kali terasa seperti proyek jangka panjang. Angkanya panjang, nolnya berderet.

Jika ingin pamer otot, mereka menggeser kapal induk. Jika ingin tahu rahasia dunia, mereka meluncurkan satelit. Logikanya sederhana, siapa yang punya uang paling banyak, ia yang berkuasa. Biaya operasional kapal induk sehari setara dengan puluhan ribu gaji pekerja selama setahun. Nilai satu satelit pengintai cukup untuk membangun sebuah kota kecil dari nol.

Logika itu ternyata mendapat ujian juga di Timur Tengah. Ada satu negara yang membuat Washington dan Tel Aviv gelisah, bukan karena armada lautnya, bukan karena cadangan devisanya, melainkan karena caranya berpikir. Namanya Iran.

BACA JUGA:Pemerintah Telusuri Asal Kayu Gelondongan Banjir Sumatra, Satgas Gunakan Citra Satelit

BACA JUGA:Apple Siapkan Satelit iPhone, Tetap Terhubung Tanpa Jaringan

Negara itu lama dicekik sanksi. Ekonominya terseok, mata uangnya jatuh bangun seperti petinju yang kalah angka. Akan tetapi, intelijennya bergerak sebaliknya: lincah, sabar, dan licin. Iran tidak sedang main catur karena catur butuh papan utuh dan bidak lengkap. 

Iran memilih judo. Dalam judo, ukuran tubuh tidak menentukan kemenangan. Yang penting adalah kepintaran memanfaatkan berat badan lawan. Makin besar lawan, makin keras ia jatuh saat dibanting.

Minggu ini bunyi bantingan itu terdengar cukup nyaring.

BACA JUGA:5 Dampak Gaya Hidup Modern yang Tidak Lepas dari Satelit Palapa

BACA JUGA:Sejarah Hari Satelit Palapa 9 Juli 2025, SATRIA-1 Milik Indonesia Unggul di Asia

PENA BERTINTA MERAH

Lupakan sejenak soal peretas atau hacker. Mari bicara tentang manusia.

Sejumlah informasi lintas negara pada Januari 2026 membuka tabir yang membuat aparat Amerika Serikat (AS) menaikkan alis cukup lama. FBI diam-diam membuntuti dua tokoh media asal Iran di Ukraina, negeri yang sedang hancur. Di antara bangkai tank dan gedung runtuh, kedua orang itu bekerja sebagai jurnalis secara resmi.

Aparat AS mencium bau tak sedap. Bukan dari layar monitor, bukan dari sinyal enkripsi. Salah seorang dari mereka ternyata bersinggungan dengan jaringan yang pernah menyiapkan rencana pembunuhan Donald Trump pada 2024. Di titik itulah cara lama kembali menunjukkan taringnya. Bukan mesin, bukan satelit, melainkan jalur manusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: