Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi

Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi

Mendiang Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia yang berpulang pada 3 Maret 2026.-Hengki Herwanto-Museum Musik Indonesia

TANGGAL 3 Maret 2026, saya dikejutkan oleh kabar duka. Lama tak berbincang. Tiba-tiba mendapat kabar bahwa seorang kawan baik, Hengki Herwanto, yang akrab saya panggil Mas Hengky, berpulang ke haribaan Sang Pemilik Hidup.

Seketika itu pula ingatan saya berkelana jauh ke tahun 2014. Saat pertama kali mengenal sosok mantan jurnalis majalah musik Aktuil itu.

Tentang dari mana saya mengenalnya, itu tidak penting. Tapi saya akan tetap mengingatnya sebagai inspirator.

Ia seorang yang menginspirasi melalui apa yang ia yakini semasa hidupnya: musik.

BACA JUGA:KMP Seri Surabaya Digelar, Dukung Para Pelajar untuk Masuk Sekolah Pilihan dengan Jalur Prestasi Lewat Musik

BACA JUGA:Google Hadirkan Fitur Musik 30 Detik di Gemini, Didukung Lyria 3 dari Google DeepMind

Di Indonesia, musik bukan sekadar hiburan. Melainkan bagian dari kehidupan sosial. Musik membentuk identitas, ingatan kolektif, dan relasi antar komunitas.

Dari pertunjukan tradisional hingga musik populer perkotaan, bunyi selalu hadir dalam konteks sosial tertentu.

Persoalan muncul ketika praktik yang hidup tersebut dipindahkan ke ruang museum: bagaimana mengarsipkan musik tanpa menghilangkan makna sosialnya? Tantangan itu yang mendasari pria asal Malang tersebut untuk bergerak mengarsipkannya.

Dalam kajian antropologi musik, Alan P. Merriam menekankan bahwa musik harus dipahami sebagai sound in culture. Bukan sekadar objek bunyi.

BACA JUGA:Patahkan Stigma Kuno, Rumah Kecapi Surabaya Alunkan Lagu Anime dari Musik Tradisional Tiongkok

BACA JUGA:Lestarikan Budaya Serumpun, Mahasiswa BBK Internasional UNAIR Pelajari Musik Tradisional Malaysia

Artinya, nilai musik tidak hanya terletak pada instrumen atau rekaman. Tetapi pada praktik sosial yang mengitarinya.

Namun dalam praktik permuseuman, pengarsipan sering masih berfokus pada materialitas—piringan hitam, kaset, CD, atau alat musik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: