Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi

Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi

ILUSTRASI Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Perpusnas bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah ruang publik yang menjadi akses pintu bagi seluruh lapisan masyarakat –baik anak-anak sekolah, mahasiswa, pekerja, maupun lansia– untuk memperoleh informasi, menambah pengetahuan, mengembangkan kreativitas, bahkan mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi. 

Di era digital saat ini, perpustakaan juga bertransformasi menjadi pusat literasi digital, membantu masyarakat memilah informasi yang akurat dari lautan konten yang sering kali tidak tepercaya.

Pemangkasan jam operasional dan layanan Perpusnas berarti membatasi kesempatan bagi jutaan orang untuk mengakses sumber daya yang mereka butuhkan. 

BACA JUGA:Menuju Indonesia Emas 2045 dengan Transformasi Dialektis

BACA JUGA:Ekonomi Hijau, Sebuah Harapan Indonesia Emas 2045

Anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tidak memiliki akses ke buku atau perangkat elektronik di rumah akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi diri mereka. 

Mahasiswa yang membutuhkan referensi penelitian akan menghadapi kesulitan lebih besar dalam menyelesaikan tugas akademiknya. Bahkan, bagi pekerja yang ingin meningkatkan keterampilan atau berwirausaha, perpustakaan acap kali menjadi tempat untuk mencari inspirasi dan informasi penting.

Paradoks yang paling mencolok adalah program-program prioritas yang menjadi tujuan dari efisiensi itu justru akan sulit mencapai hasil maksimal jika dukungan dari sektor literasi dan pengetahuan tidak kuat. 

Misalnya, program MBKM akan menghasilkan lulusan yang berkualitas jika mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, dan mampu mengakses serta mengolah informasi dengan baik –kemampuan yang salah satunya dapat diasah melalui akses ke perpustakaan. 

BACA JUGA:2045 Menuju Indonesia Emas, Peluang atau Ancaman?

BACA JUGA:Bonus Demografi di Era Indonesia Emas 2045, Berkah atau Musibah?

Begitu juga dengan pembangunan daerah tertinggal; masyarakat di daerah tersebut akan sulit untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan jika mereka tidak memiliki literasi yang memadai untuk memahami program-program pemerintah dan mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Selain itu, pengurangan anggaran untuk Perpusnas juga bisa dianggap sebagai kurangnya pemahaman terhadap pentingnya investasi dalam modal manusia secara berkelanjutan. 

Indonesia emas tidak akan terwujud hanya dengan pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur semata. Ia membutuhkan generasi muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki integritas –yang semuanya tidak bisa tercapai tanpa dukungan sistem pendidikan dan literasi yang kuat.

MOTIVASI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: