Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi
ILUSTRASI Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Meski realitas yang dihadapi Perpusnas saat ini cukup memprihatinkan, kita tidak boleh menyerah pada kondisi itu.
Paradoks yang muncul harus menjadi pemicu bagi kita semua –baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha– untuk berpikir lebih kritis tentang bagaimana kita mengalokasikan sumber daya dan memprioritaskan pembangunan bangsa.
Pemerintah perlu melihat bahwa investasi dalam literasi dan perpustakaan bukanlah biaya yang perlu dipangkas, melainkan investasi jangka panjang yang akan memberikan hasil lipat ganda bagi kemajuan negara.
Masyarakat bisa berperan aktif dengan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perpustakaan dan mendukung upaya untuk memastikan bahwa layanan itu tetap dapat diakses semua orang.
Dunia usaha juga dapat berkontribusi melalui program kemitraan atau sponsor untuk membantu meningkatkan kapasitas Perpusnas dan perpustakaan-perpustakaan lainnya di seluruh Indonesia.
Ingatlah bahwa setiap buku yang dibaca, setiap informasi yang diperoleh, dan setiap ide yang lahir dari perpustakaan adalah batu bata yang menyusun fondasi Indonesia emas yang kita impikan.
Mari kita bekerja sama untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun lapisan masyarakat yang terpinggirkan dalam upaya kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara kita. Wallahu a’lam bisshawab. (*)
*) Imam Kusnin Ahmad, wartawan senior dan pengurus PW ISNU Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: