Waspada, Perubahan Pola Bicara Bisa Jadi Tanda Awal Demensia

Waspada, Perubahan Pola Bicara Bisa Jadi Tanda Awal Demensia

Perubahan pola bicara atau ketidakmampuan memproses sesuatu dengan cepat bisa jadi tanda awal demensia.--freepik.com

HARIAN DISWAY - Perubahan kecil dalam cara seseorang berbicara. Termasuk memilih kata saat berkomunikasi. Hal itu menjadi fokus para ahli saraf untuk mendeteksi risiko demensia lebih dini.

Pola bicara tertentu sering dianggap sepele dalam percakapan sehari-hari. Namun, pola semacam itu memiliki hubungan erat dengan penurunan fungsi kognitif.

Gejala tersebut antara lain jeda yang lebih lama sebelum mengucapkan kata tertentu dan kesulitan menemukan istilah yang tepat. Hingga penggunaan kata-kata umum sebagai pengganti kata benda yang spesifik.

Dalam berbagai observasi, individu yang berada pada fase awal gangguan kognitif ringan atau Mild Cognitive Impairment (MCI) cenderung menggunakan kalimat yang lebih pendek.

BACA JUGA:Gangguan Kognitif Pekerja Shift Malam Menurut Penelitian Kanada: Sulit Berpikir Jernih

BACA JUGA:Menolak Tua: Konsumi 4 Makanan Ini Jika Ingin Panjang Umur dan Mejaga Fungsi Kognitif


individu yang berada pada fase awal gangguan kognitif ringan atau Mild Cognitive Impairment (MCI) cenderung menggunakan kalimat yang lebih pendek.--Pinterest

Mereka juga lebih sering mengulang gagasan yang sama. Pun, menggunakan struktur bahasa yang lebih sederhana dibandingkan sebelumnya.

Kondisi tersebut mencerminkan menurunnya efisiensi pemrosesan informasi di otak. Area otak yang berperan dalam fungsi eksekutif dan memori semantik menjadi bagian yang paling terdampak. Sehingga kemampuan berbahasa ikut mengalami perubahan secara bertahap.

Salah satu tanda yang paling sering muncul adalah kesulitan mengingat kata benda tertentu. Seseorang kemudian menggantinya dengan kata-kata penunjuk umum. Seperti “itu”, “anu”, atau “barang itu” saat berbicara.

Perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Penurunan kemampuan berbahasa berkembang perlahan. Bahkan sering kali tidak disadari oleh penderita maupun orang di sekitarnya.

BACA JUGA:Efek Samping Smart Drugs dan Bahaya Penggunaan Suplemen Otak Tanpa Resep

BACA JUGA:Manfaat Otak Sapi untuk MPASI: Kaya Nutrisi untuk Dukung Tumbuh Kembang Bayi


Penurunan kemampuan berbahasa berkembang perlahan dan kerap tidak disadari oleh penderita maupun orang di sekitarnya..--Pinterest

Karena itu, keluarga dan lingkungan terdekat memiliki peran penting dalam mengenali perubahan pola komunikasi itu.

Selain kesulitan menemukan kata, hilangnya kemampuan menjaga alur cerita juga menjadi indikator yang perlu diwaspadai.

Orang yang berisiko mengalami demensia sering kehilangan fokus saat berbicara. Atau tiba-tiba lupa topik utama yang sedang dibahas.

Frekuensi gumaman seperti “uh”, “mm”, atau jeda vokal lainnya yang meningkat juga dapat menjadi sinyal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa otak sedang bekerja keras.

BACA JUGA:Tingkatkan Kecerdasan Otak dengan 5 Kebiasaan Baik Jelang Tidur, Anda Siap Melakukan yang Nomor Berapa?

BACA JUGA:Dampak Negatif Screen Time pada Anak, Kenali Risiko Otak Brondong, Apakah Itu?


Berkurangnya keragaman kosakata serta penyederhanaan struktur sintaksis berkaitan dengan penyusutan volume otak.-Freepik-Freepik

Otak membutuhkan waktu dan usaha lebih besar. Hanya untuk menyusun kalimat yang sebenarnya sederhana.

Berbagai studi longitudinal turut memperkuat hubungan antara kemampuan bahasa dan kesehatan otak. Hasil penelitian menunjukkan hal penting.

Bahwa berkurangnya keragaman kosakata serta penyederhanaan struktur sintaksis berkaitan dengan penyusutan volume otak. Yakni pada area temporal dan frontal.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini turut dimanfaatkan untuk mendeteksi risiko demensia. Itu dapat dilakukan melalui analisis rekaman suara percakapan sehari-hari.

BACA JUGA:7 Kebiasaan Negatif yang Dapat Merusak Otak

BACA JUGA:5 Latihan Otak untuk Memperkuat Daya Ingat

Sistem berbasis AI mampu mengidentifikasi pola linguistik yang berkaitan dengan penurunan kognitif. Bahkan sebelum hasil tes kognitif konvensional menunjukkan kelainan.

Kesadaran terhadap tanda-tanda linguistik tersebut mengubah pendekatan dunia medis dalam mendiagnosis demensia.

Deteksi dini berbasis pola bicara dinilai lebih praktis. Karena bersifat non-invasif, terjangkau, dan dapat dilakukan melalui interaksi sosial sehari-hari.

Dengan mengenali gejala sejak awal, keluarga dan tenaga medis dapat segera mengambil langkah pencegahan.

BACA JUGA:Ternyata Puasa Bikin Otak Sehat dan Umur Panjang, Ini Penjelasannya

BACA JUGA:Bye, Lemot! 7 Cara Ampuh untuk Melatih Otak Semakin Tajam dan Cerdas

Upaya tersebut meliputi perubahan gaya hidup, stimulasi kognitif, hingga terapi. Semuanya bertujuan menjaga kualitas hidup dan mempertahankan fungsi otak dalam jangka panjang. (*)

*) Mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, Untag Surabaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: