Era Baru Hubungan Indonesia-Rusia: Non-Aligned dalam Dunia Multipolar
ILUSTRASI Era Baru Hubungan Indonesia-Rusia: Non-Aligned dalam Dunia Multipolar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ARTIKEL ini adalah lanjutan tulisan saya yang dimuat Harian Disway bulan lalu dengan judul Victory Day dan Kemerdekaan RI yang lebih menceritakan hubungan persahabatan Indonesia dan Uni Soviet atau Rusia dalam bukti-bukti sejarah. Pada tulisan kali ini, saya lebih membahas hubungan strategis Indonesia dan Rusia, khususnya di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet atau Rusia dimulai pada 3 Februari 1950. Berarti, hubungan kedua negara kini sudah berusia 75 tahun. Hubungan Indonesia dan Rusia membaik pascareformasi dan saya melihat makin lebih baik di era pemerintahan saat ini.
Ibarat kata, hubungan Indonesia dan Rusia sedang memasuki fase manis-manisnya. Saya berharap agar rasa manis itu bisa sampai kepada masyarakat Indonesia dan Rusia di saat ini dan di masa depan.
Indonesia Bergabung BRICS
Sebuah langkah berani Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia bergabung ke dalam BRICS, kelompok kerja sama ekonomi dan geopolitik antarnegara berkembang (Global South). BRICS sendiri adalah akronim dari negara pendiri, yakni Brasil, Rusia, India, China (Tiongkok), dan South Africa (Afrika Selatan).
BACA JUGA:Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia
BACA JUGA:Analisis dan Harapan Konstuktif dari Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia
Diawali dengan keikutsertaan Presiden Prabowo pada KTT BRICS pada 6–7 Juli 2025 di Rio de Janeiro, Brasil. Sebagai kelanjutannya, diterima dan tercatat sebagai anggota ke-10 BRICS pada 6 Januari 2025.
Bergabungnya Indonesia ke BRICS memberikan peluang Indonesia untuk berkibar dalam pergaulan internasional. Keuntungan perdagangan dan investasi yang melibatkan negara-negara anggota dan calon anggota BRICS, ketahanan ekonomi khususnya stabilitas mata uang dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada negara barat, akses kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, dan bahkan keamanan bisa didapat Indonesia.
Sambutan Hangat Rusia untuk Indonesia
Pada Juni 2025, sebulan sebelum KTT BRICS, Presiden Prabowo mendapat kesempatan sebagai guest of honour atau tamu utama, mendapat kesempatan berpidato pada Sesi Pleno St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) Tahun 2025. Itu mencerminkan bahwa Indonesia adalah mitra strategis Rusia saat ini dan di masa depan. Dalam forum tersebut, ada beberapa pernhyataan presiden RI yang akan saya kutip.
”One thousand friends, too few. One enemy, too many.” Kalimat itu merepresentasikan filosofi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, yang tidak memihak blok mana pun.
BACA JUGA:Peran Krusial Penerbang TNI dalam Misi Kemanusiaan: Sayap-Sayap Pelindung Nusantara
BACA JUGA:Perang Rusia-Ukraina, Jokowi Melerai
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: