Pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga: Kritik di Tahun Politik

Kamis 19-10-2023,13:58 WIB
Oleh: Suryanto & Bagong Suyanto

JUMLAH guru besar Universitas Airlangga yang dikukuhkan pada 2023 terus bertambah. Sepanjang 2023 diperkirakan total ada 69 guru besar baru yang akan dikukuhkan. Tahun 2023 Universitas Airlangga boleh dikata panen guru besar. 

Untuk Rabu, 18 Oktober 2023, ada tujuh guru besar baru yang dikukuhkan. Mereka adalah Dian Yulioe Reindrawati, Tika Widiastuti, Rosy Setiawati, Achmad Chusnu Romdhoni, Prastiya Indra Gunawan, Edy Jauhari, dan Heny Arwati. Perinciannya, 4 dari fakultas kedokteran, 2 dari fakultas vokasi, dan 1 dari fakultas ilmu budaya. 

BACA JUGA:Ketika Guru Besar Pintar Merasa Diperdaya

BACA JUGA:Beban Guru Besar Sekaligus Pimpinan PT

Pekan depan, Rabu, 25 Oktober 2023, menurut rencana ada delapan guru besar baru yang kembali dikukuhkan Universitas Airlangga. Bagi Universitas Airlangga, setiap penambahan guru besar  baru tentu dimaknai sebagai tambahan pasokan sumber daya baru yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 

Kehadiran guru besar tidak hanya bermanfaat untuk mendongkrak mutu pembelajaran di fakultas, tetapi juga bermanfaat untuk meningkatkan reputasi universitas di mata lembaga akreditasi nasional maupun internasional.

BACA JUGA:Menjadi Guru Besar

BACA JUGA:Unair Kukuhkan 7 Guru Besar, Berikut Daftarnya...

Kritik

Salah seorang guru besar yang dikukuhkan adalah Edy Jauhari dari fakultas ilmu budaya. Judul pidato Edy adalah Kritik: Tindakan Linguistik sebagai Wahana Kontrol Sosial. Tema pidato Edy itu menarik. Sebab, isinya relevan dengan kondisi terbaru yang saat ini banyak diberitakan di media massa.

Seperti diketahui, menjelang tahun politik 2024, di media sosial nyaris setiap detik muncul berbagai kritik. Mulai yang santun hingga kritik yang lebih tepat disebut caci maki. Dalam pidatonya, Edy menyatakan bahwa kritik memang selalu bisa menimbulkan pro dan kontra. 

BACA JUGA:Prabowo Kritik Politik Berbiaya Tinggi, Larang Relawan Gadaikan Rumah Demi Nyalon

BACA JUGA:Tanpa Dikritik PBNU Pun, Elektabilitas Cak Imin Sulit Dinaikkan, Kata Pengamat Politik

Bahkan, bisa memicu ketegangan atau konflik di antara pihak-pihak yang terlibat. Tidak jarang, akibat kritik, ada pihak yang tersinggung dan harus menyelesaikan kritik yang terlontar hingga berujung di jalur hukum atau pengadilan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Airlangga Prof Muhammad Nasih mengungkapkan, manusia dan hewan berbeda karena ada daya kritis yang dimiliki manusia. Manusia yang bermartabat memiliki kemampuan melontarkan kritik yang beretika.

Kategori :