Jatim Darurat Sanitasi: Kebiasaan BAB Sembarangan Ditemukan di 664 Desa

Jatim Darurat Sanitasi: Kebiasaan BAB Sembarangan Ditemukan di 664 Desa

Penandatangan komitmen bersama menuju Provinsi Jawa Timur 100 Persen Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) 2024 di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Kamis, 28 Maret 2024-Dok Humas Pemprov Jawa Timur-HARIAN DISWAY

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Buang air besar sembarangan (BABS) masih menjadi masalah di Jawa Timur. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim menunjukkan 664 desa/kelurahan di 8 kabupaten/kota masih memiliki rumah tangga yang melakukan BABS.

Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono menegaskan komitmennya untuk mencapai target 100% Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di tahun 2024.

"Kami minta komitmen dari delapan kabupaten/kota yang masih membutuhkan percepatan agar segera 100 persen SBS," ujar Adhy, Jumat, 29 Maret 2024.

Delapan daerah yang dimaksud adalah Kabupaten Sidoarjo, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten Jember, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Situbondo.

Pemprov Jatim telah memiliki program Jatim Akses dalam Nawa Bhakti Satya yang berkomitmen penuh memberikan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat.

Program lain seperti Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dan Penanganan Kawasan Kota Kumuh Perkotaan juga terus dilakukan untuk memastikan warga memiliki sanitasi yang baik.

BACA JUGA:Waspada! Potensi Bencana Hidrometeorologi Meningkat, Begini Kesiapsiagaan Pemprov Jatim

BACA JUGA:Pj Gubernur Jatim Adhy: Core Values Ber-AKHLAK, Parameter Percepatan Reformasi Birokrasi

Namun, Adhy menekankan bahwa solusi BABS bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat.

"Masuk juga ke ranah Dinas Sosial maupun Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jadi diperlukan kolaborasi dan sinergitas termasuk dengan seluruh stakeholder guna percepatan SBS 100 persen," jelasnya.

Kepala Dinkes Jatim Erwin Asta Triyono menambahkan, sanitasi memiliki dampak besar bagi kesehatan.

"Tiga besar penyakit paling banyak ditangani di rumah sakit adalah kelompok penyakit keganasan, kelompok penyakit metabolik, dan kelompok penyakit infeksi," kata Erwin.

Ketiga penyakit ini berkaitan erat dengan masalah higiene dan sanitasi.

"Begitu sanitasi dan kita bagus, SBS telah mencapai 100 persen diharapkan benar-benar menurunkan angka infeksi di masyarakat," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: