5 Kebiasaan Unik Menyambut Ramadan Ini Hanya Ada di Indonesia

Masyarakat Indonesia menyambut Ramadan dengan tradisi unik seperti megengan, nyadran, ziarah kubur, atau dugderan seperti yang ada di Kota Semarang seperti dalam foto. --Pinterest
HARIAN DISWAY - Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki berbagai tradisi unik dalam menyambut datangnya bulan suci ini.
Tradisi-tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari budaya dan identitas masyarakat setempat. Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut Ramadan.
Mulai dari ritual keagamaan, kegiatan sosial, hingga kuliner khas yang hanya muncul pada bulan ini. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya mempererat hubungan antaranggota masyarakat, tetapi juga menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
BACA JUGA: 10 Cara Mencegah Asam Urat Kambuh saat Salat Tarawih selama Ramadan, Ibadah Jadi Lebih Khusyuk
Selain itu, bulan Ramadan juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, memperdalam nilai-nilai keagamaan, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
Kehangatan bulan suci ini semakin terasa dengan adanya berbagai kegiatan khas Ramadan, seperti pasar takjil, tradisi ngabuburit, serta berbuka puasa bersama yang memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
1. Tradisi Megengan
Di beberapa daerah, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, masyarakat mengadakan tradisi megengan sebagai bentuk syukuran sebelum memasuki bulan Ramadan dengan mengadakan doa bersama dan membagikan kue apem kepada tetangga dan sanak saudara.
Apem dalam tradisi megengan melambangkan permohonan ampun dan penyucian diri sebelum menjalani ibadah puasa. -Nur Badriyah-Facebook
BACA JUGA: Hitung Mundur Puasa Ramadan 2025, Tersisa Berapa Hari Lagi? Cek Sekarang!
Apem melambangkan permohonan ampun dan penyucian diri sebelum menjalani ibadah puasa. Selain itu, dalam tradisi megengan, sering kali diadakan tahlilan dan pembacaan doa untuk mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal.
Masyarakat percaya bahwa megengan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sebagai bentuk persiapan spiritual dalam menyambut bulan Ramadan. Selain doa bersama, beberapa daerah juga mengadakan pengajian akbar.
Saat itu tokoh agama setempat memberikan ceramah tentang pentingnya menjaga kebersihan hati dan memperbanyak amal ibadah selama bulan suci. Di sisi lain, hidangan kue apem yang dibagikan dalam tradisi ini memiliki makna mendalam.
Apem diambil dari kata affan atau afwan yang berarti maaf atau pengampunan, sehingga kue ini menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki bulan Ramadan. Kue apem biasanya dibuat secara gotong royong oleh ibu-ibu di desa, menambah nuansa kebersamaan dalam tradisi ini.
BACA JUGA: Sambut Bulan Syaban 2025/1446 Hijriah, Ini Doa-Doa yang Harus Dibaca
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: