Ramadan Kareem 2025 (23): Menjemput Kebaruan

Ramadan adalah momentum pengenalan diri secara sejati.--iStockphoto
Lebaran ini mengimajinasikan anak-anak juga berbaju baru dan biaya belinya pastilah diperlukan sehingga pengeluaran waktu liburan tampak membengkak akibat mereka jenuh dengan jumlah mata pelajaran.
Libur Ramadan untuk beridulfitri pasti dinanti. Anak-anak itu selaksa celengan yang setiap saat dimasuki uang recehan. Juga hubungan dengan setiap handai taulan yang setiap orang akan menorehkan dinamikanya dalam ingatan mengai apa yang terjadi di Ramadan.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (15): Hilyatul Auliya
Dalam relung waktu yang kini almanak sejarah menamakan sulamannya menjemput Idulfitri 1446 H yang mengiringkan doa adalah pilihan yang amat tahu diri.
Ada pula yang sibuk memadati jalanan sambil kluyar kluyur menghabiskan BBM dengan boncengan sepeda motor anak-anak yang disesaki asap kendaraan. Sebuah tragedi yang mewarnai lalu lintas dalam menyongsong Idulfitri 2025 mesti dipungkasi.
Petugas keamanan perlu disebar ke seluruh ruas jalan dan lahan republik ini. Dan kini terbaca dengan jelas polisi untuk masyarakat. Intinya begitu meski kata-katanya tidak persis amat.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (14): Momentum Bertahannuts
Kini di luar itu semua. Hadirnya anak-anak yang tawuran sarung atau antar kampung, jes ini anak-anak didik yang memanen derita ketumpulan pikir dan hati generasi dari keluarga yang melakukan itu.
Mungkin sel otak anak-anak itu terganggu akibat tersedak emisi gas buang kendaraan bermotor yang mengepul memenuhi langit-langit jalanan metropolitan.
Mengapa harus ada tawuran di bulan Ramadan? Mengapa mereka tidak lebih menepikan diri saja di sisi ruang keluarga untuk berdiam di pojok waktu rumahnya dengan menakar kapasitas anggota keluarganya serta bermunajat menyimpuhkan diri pada Tuhannya. Nderes mengaji dan beriktikaf.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (13): Perang Sarung
Sadari bahwa sejatinya untuk membuka lembaran baru itu tidaklah harus menunggu waktu berlama-lama hari, waktu setahun, melainkan setiap saat, setiap detik, setiap apa yang tersebut “nanti” adalah baru.
Sepersekian sekon apalagi sepersekian detik, menit maupun jam itu memberikan keniscayaan saat yang baru. Setiap jejak saat yang kita belum mengalaminya meski seperjuta sekon waktu adalah babakan baru sehingga setiap saat itulah hidup kita mestinya mengalami pembaruan-pembaruan lebih masalahat.
Ramadan adalah etape pembaruan jiwa. Adalah sebuah keanehan apabila manusia tidak menyadari bahwa hari-hari hidupnya sesunggunya hari-hari baru yang dijelajahi sambil menautkan ruhani dalam atmosfer Illahi.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (12): Ramadan dan Ingatan Nareswari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: