50 Tahun Microsoft: Sosok-Sosok CEO di Balik Kejayaan Sang Raksasa Teknologi

50 Tahun Microsoft: Sosok-Sosok CEO di Balik Kejayaan Sang Raksasa Teknologi

Empat sosok besar di balik kesuksesan Microsoft. --HARIAN DISWAY

Namun, kepemimpinan Ballmer juga diwarnai keputusan yang kontroversial. Salah satu kesalahan terbesarnya adalah gagal mengantisipasi revolusi ponsel pintar.

Saat Apple meluncurkan iPhone pada 2007 dan Google memperkenalkan Android, Ballmer meremehkan dampaknya. Akibatnya, ketika Microsoft akhirnya meluncurkan Windows Phone, mereka sudah tertinggal jauh.

Akuisisi Nokia senilai 7,2 miliar dolar Amerika yang dilakukan Ballmer pada 2013 justru berujung kegagalan. Windows Phone tidak mampu bersaing dengan iOS dan Android, hingga akhirnya proyek itu dihentikan pada 2017.

Di luar itu, Ballmer tetap berhasil membuat Microsoft semakin kuat secara finansial. Saat ia pensiun pada 2014, pendapatan tahunan Microsoft mencapai USD 78 miliar, dengan keuntungan bersih USD 22 miliar.

BACA JUGA:Susul Apple, Bos Microsoft Akan Berinvestasi Rp 14 T

BACA JUGA:Microsoft Investasikan Miliaran USD pada Perusahaan AI di UEA

Satya Nadella: Sang Arsitek Transformasi


Satya Nadella: Arsitek transformasi Microsoft menuju era cloud dan AI, membawa perusahaan ke puncak baru. --engadment

Ketika Satya Nadella mengambil alih sebagai CEO pada 2014, Microsoft menghadapi tantangan besar. Windows tidak lagi menjadi primadona. Perusahaan itu kehilangan daya saing di era digital baru.

Nadella datang dengan strategi berbeda. Ia mengubah fokus Microsoft dari software berbasis perangkat ke layanan berbasis cloud. Salah satu langkah terbesarnya adalah mengembangkan Azure yang kini menjadi kekuatan besar dalam bisnis komputasi awan.

Di bawah kepemimpinan Nadella, Microsoft juga semakin agresif dalam akuisisi. Akuisisi LinkedIn senilai USD $26,2 miliar pada 2016 memperkuat posisi mereka di dunia profesional. Kemudian, Microsoft membeli GitHub seharga USD 7,5 miliar, menjadikannya pusat komunitas pengembang perangkat lunak.

Namun, gebrakan terbesar Nadella adalah masuknya Microsoft ke dunia kecerdasan buatan. Kemitraan dengan OpenAI membuat teknologi AI seperti ChatGPT menjadi bagian dari ekosistem Microsoft, mulai Bing hingga Office 365.

Keputusan itu terbukti tepat. Dengan tren AI yang terus berkembang, Microsoft kini menjadi salah satu pemain utama di bidang tersebut. Meski masih harus bersaing dengan Google dan AWS, posisi Microsoft semakin kuat di era digital yang baru.

BACA JUGA:Workshop Persembahan Telkom Regional V-Microsoft 365 Ini Bantu Para Guru di Jatim Majukan Transformasi Digital Pendidikan

BACA JUGA:Microsoft Perbaiki Sistem Update OS Windows 11, Install Update Tak Perlu Reboot

Kejayaan Cloud dan AI: Pertarungan di Era Baru

Dengan strategi cloud-first, Microsoft kini bersaing ketat dengan Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud. Azure menguasai 21 persen pasar cloud global, hanya tertinggal dari AWS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: