Mikroplastik Mengintai Kita (1): Kadar di Surabaya Paling Tinggi
CAKRAWALA KOTA SURABAYA di sekitar Balai Kota, 31 Desember 2025.-Boy Slamet-
Hujan yang turun belakangan ini di Surabaya tampak ’’normal.’’ Begitu pula udara atau makanan yang kita konsumsi tiap hari. Bisa jadi, di dalamnya ada cemaran mikroplastik. Yang ukurannya sangat kecil.
MIKROPLASTIK, sampah berukuran mikroskopis itu tidak bisa diamati dengan mata telanjang. Massanya ringan. Bisa menyebar ke berbagai penjuru. Bahkan masuk ke saluran pernapasan dan pencernaan manusia. Pemantauannya harus melalui laboratorium.
Sepanjang Mei-November 2025, Ecoton, salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) independen yang bergerak di bidang lingkungan, meneliti adanya partikel mikroplastik yang mengontaminasi air hujan dan udara Surabaya.
Rafika Aprilianti, S.Si, Kepala Laboratorium Ecoton, mengatakan bahwa timnya telah menemukan cemaran mikroplastik di Surabaya yang terbawa oleh udara dan air hujan. Ukurannya kurang dari 5 milimeter.
BACA JUGA:5 Alat Dapur Mengandung Mikroplastik, Bahaya Kesehatan Mengintai
BACA JUGA:Mikroplastik Kontaminasi Aliran Darah Ibu-Ibu di Gresik
Penelitian itu dilakukan pada tiga titik. Yakni perumahan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Alun-Alun Gubernur Suryo, dan Taman Jangkar. “Itu sebagai gambaran umum yang mewakili berbagai kondisi lingkungan yang berbeda di suatu wilayah,” ujarnya kepada Harian Disway, 19 Januari 2026.
Jalan Gubernur Suryo mewakili kawasan padat penduduk. Mobilitas kendaraan yang tinggi. Lokasi itu menjadi titik penting untuk mengukur sejauh mana polusi transportasi menyumbang sebaran mikroplastik di udara Surabaya.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa titik tersebut memiliki kandungan mikroplastik tertinggi di udara dibandingkan lokasi lainnya. Temuan Ecoton juga menunjukkan bahwa masing-masing kawasan punya karakter sendiri. Itulah yang menentukan kadar cemaran mikroplastik di tiap daerah (lihat grafis).
Di perumahan dosen ITS, misalnya. Meski padat penduduk, vegetasi yang rimbun di sana mampu berperan sebagai filter alami bagi partikel plastik sehingga cemaran mikroplastik di wilayah ini paling sedikit jumlahnya. “Namun, mikroplastik itu akan berbahaya bagi tanaman karena mengganggu proses fotosintesis pada tumbuhan,” imbuh lulusan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, tersebut.
Selain itu, Ecoton juga meneliti kadar mikroplastik pada udara di tujuh lokasi. Yakni, Pakis Gelora, Tanjung Perak, HR Muhammad, Wonokromo, Gunung Anyar, Ketintang, dan Dharmawangsa (lihat grafis).

--
Berdasar hasil temuan mikroplastik di udara oleh Ecoton pada 18 kota di Indonesia, termasuk Gresik, Surabaya, Jombang, Malang, dan Solo, sebanyak 55 persen mikroplastik berasal dari pembakaran sampah.
Kemudian, 33 persennya berasal dari industri tekstil dan pergesekan ban kendaraan bermotor. Sisanya, berasal dari timbunan sampah plastik yang berceceran di jalanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: