Setahun Manajer Chelsea, Kenapa Tuchel Tidak Kunjung Dipecat!

Setahun Manajer Chelsea, Kenapa Tuchel Tidak Kunjung Dipecat!

The Blues Chelsea sedang tidak bagus. Tiga kemenangan dari 10 laga terakhir Premier League menunjukkan ada yang tidak beres dengan tim Stamford Bridge.

Kalau dipikir-pikir, fenomena itu nyaris sama ketika manajer sebelumnya Frank Lampard akhirnya dipecat. Nah, kalau Lampard saja dipecat, kenapa manajer sekarang Thomas Tuchel kok masih dibiarkan memimpin Chelsea.

Seperti disampaikan di atas, tim asuhan Thomas Tuchel memenangkan tiga dari 10 laga. Chelsea mendapatkan 14 poin dari 10 laga itu. Saat Lampard dipecat Chelsea mendapatkan 11 poin dari 10 laga. Dengan perolehan seperti itu, kini bayangan Manchester City seolah-olah mulai mengabur. Bisa-bisa Manchester City hilang dari pandangan bila mereka kalah saat menghadapi derby London menghadapi Tottenham Hotspur asuhan Antonio Conte, Minggu (23/1). 

Meskipun hasil minor didapat, peringkat Chelsea dinilai masih aman. Karena itu, sepertinya belum perlu ada perubahan di Stamford Bridge. Bahwa manajemen The Blues mulai waspada tentu iya. Tetapi kecemasan belum sampai pada tingkat mencengkeram. Roman Abramovich sepertinya belum kehabisan peluru kesabaran.   Dan,  itu adalah bukti dari 12 bulan pertama Tuchel bertugas. 

Memenangkan Liga Champions membantu, tentu saja membuat sang bos merasa nyaman. Merebut trofi Liga Champions tak ubahnya seperti mendapatkan hadiah mewah dan menjadi tiket untuk menguasai prestise internasional sebagai pemilik klub modern.

Peluang di Premier League ''mungkin sudah habis'' tetapi Tuchel masih punya kartu AS. Satu di antaranya sudah di depan mata, yaitu final Piala Carabao melawan Liverpool. Kans di Piala FA masih jalan. Dan, satu lagi, peluang merebut si kuping besar juga masih terbuka lebar. 

Boleh jadi ini menjadi  musim gemerlap lainnya bagi Chelsea, meski performa harus ditingkatkan untuk melindungi status sosialnya sebagai juara Liga Champions. Tetapi Tuchel juga harus tahu. Terkadang lanskap bisa berubah dengan sangat cepat.

Masa jabatan Lampard mencapai tahap kritisnya ketika Chelsea jatuh dengan cepat dari puncak Liga Premier ke posisi kesembilan. Tidak ada faktor meringankan yang bisa menyelamatkan Lampard kala itu. 

Reaksi Tuchel, saat kali pertama  didekati adalah mempertanyakan apakah Chelsea benar-benar perlu menggulingkan legenda klub yang telah tampil baik dan membina lulusan akademi di tengah larangan transfer.

Tetapi keputusan sudah dibuat di tingkat ''dewa''. Tidak hanya hasil yang menurun, tetapi hubungan kunci Lampard dengan manajemen juga sudah telanjur rusak. 

Kemenangan  di Liga Champions adalah kemampuan Tuchel untuk memelihara jalur komunikasi dengan direktur Marina Granovskaia dan penasihat teknis dan kinerja Petr Cech.

Chelsea milik  Abramovich mungkin merupakan klub yang aneh dalam istilah Inggris, tetapi setelah egomania yang merajalela di parade di Paris Saint-Germain, itu pasti tampak seperti oasis ketenangan bagi Tuchel. Pria Jerman itu terkejut dengan kultur dan struktur pendukung yang ia temukan. Demikian pula, tokoh-tokoh kunci di Chelsea senang menemukan Tuchel lebih inklusif dan kurang argumentatif daripada reputasi Frank Lampard.

Sangat cepat, sepertinya cocok. Ofisial klub menyukai persona publik Tuchel dan penanganan ego ruang ganti. Mungkin Tuchel lebih bijaksana karena sudah punya pengalaman  dengan Neymar dan Kylian Mbappe.

Bujuk rayu Tuchel terhadap dua penjaga gawang jadi deskripsi positifnya. Setelah kedatangannya, Tuchel menjelaskan bahwa Edouard Mendy akan menjadi No 1. Tetapi Tuchel tidak mau n Kepa Arrizabalaga kehilangan muka. Itu terbukti saat adu penalti di Piala Super melawan Villarreal Agustus 2021. Kepa masuk menggantikan Mendy dan sang kiper melakukan penyelamatan. Dengan kata lain, kepercayaan diri Kepa yang dihancurkan di bawah rezim Lampard berhasil dipulihkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: