Generasi Sandwich, Ahli Ngempet yang Terjepit

ILUSTRASI Generasi Sandwich, Ahli Ngempet yang Terjepit.-pinterest-
PADA era dengan perubahan yang sangat cepat, tuntutan untuk beradaptasi juga sama cepatnya. Lengah sedikit, akan tertinggal kereta. Langkah dunia terburu-buru maju. Ada yang memilih tetap woles, ada yang memilih lari cepat, ada yang di tengah-tengah yang ingin cepat, tapi kaki terikat beban. Ngos-ngosan.
Kaum middle class. Kaum mayoritas, di luar 1 persen people tapi di atas garis prasejahtera. Kaum serba-nanggung. Mau flexing tidak bisa, mau mengeluh dibilang tidak bersyukur. Serbasalah. Tekanan kian tahun kian mengimpit. Maka, muncullah concern tentang mental health.
Kesehatan mental sering diabaikan. Tidak pernah dirasakan. Tidak pernah terlintas. Mulai muncullah beberapa istilah psikologi yang makin sering kita dengar: anxiety, panic attack, burnout, OCD, mindfulness, dan seterusnya.
BACA JUGA:Thomas Lembong: Generasi Sandwich Bisa Makmur di Era AMIN
BACA JUGA:Cara Membuat Cheese Corn Sandwich yang Lezat dan Praktis
Hingga pembedahan ke kelompok-kelompok sosial. Kalau dulu kita hanya mengenal generasi boomer, generasi X, Y, sekarang kita juga mengenal kelompok generasi sandwich. Bukan tentang generasi yang tercipta karena urutan waktu, tapi akibat kondisi sosial dan keuangannya.
Sandwich menggambarkan impitan berlapis yang dialami seseorang. Dalam hal ini, keuangan yang menanggung hidup lapisan di atas yaitu orang tua dan lapisan di bawah yaitu anak.
Bukan bermaksud menyalahkan generasi sebelumnya. Yang mana kita tahu bahwa generasi boomer juga punya perjuangannya sendiri. Babat alas usaha ini itu. Mewarisi beban generasi sebelumnya yang lebih sulit, yakni zaman Perang Dunia II.
BACA JUGA:Relatable! Sinopsis Home Sweet Loan, Potret Perjuangan Sandwich Generation Membeli Rumah
BACA JUGA:5 Tips Membuat Sandwich Subway di Rumah
Pada masa babat alas itu, namanya hidup pasti ada yang berhasil, lebih bayak yang rungkad alias gagal total. Karena itu, boro-boro mewarisi harta kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Malah mewarisi utang yang bikin anak-anaknya putus sekolah. Itulah yang kebanyakan terjadi. Membereskan PR orang tua sambil melanjutkan hidup.
Juga, menanggung hidup di sisa masa hidup orang tua. Karena sudah pasti mereka tidak punya tabungan untuk usia pensiun, asuransi jika mereka sakit. Sudah, hapus semua pertanyaan ”kok bisa?” atau kata angan-angan ”seandainya”. Buang itu semua. Percuma, karena tidak akan ada faedahnya berdebat tentang itu. Lebih baik bertindak.
Itu di lapisan atas. Di lapisan bawah ada juga. Anak-anak kita. Yang harus kita siapkan masa depannya. Pendidikan, kesehatan, gizi, dan kebutuhan dasar lainnya. Generasi sandwich itu tidak pernah muluk-muluk. Realistis saja.
BACA JUGA:Chef Hugo Bagikan Resep Korean Sandwich di Surabaya Tourism Awards 2022
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: