Kisah Mufaizah dan Senandung Harapan Relawan Dapur MBG

Kisah Mufaizah dan Senandung Harapan Relawan Dapur MBG

TIM Kitchen SPPG Panjang Jiwo yang selalu menjaga kebersihan dan kelayakan menu yang disajikan untuk MBG.-Dok. SPPG Panjang Jiwo Surabaya-

DINDING Dapur MBG (Makanan Bergizi Gratis) di kawasan Panjang Jiwo IX, Tenggilis Mejoyo, Surabaya, kini menjadi saksi bisu sebuah transformasi ekonomi kecil. Namun sangat signifikan. Di balik hiruk pikuk persiapan ribuan porsi makanan bergizi setiap harinya, terdapat wajah-wajah penuh syukur yang tak lagi diselimuti rasa khawatir akan hari esok. Salah satunya adalah Mufaizah, 51 tahun.

Perempuan yang akrab disapa Faizah ini bergabung dengan Dapur MBG sebagai helper (asisten koki) sekitar dua bulan lalu. Sebuah langkah berani yang berawal dari sebuah flyer lowongan kerja di tengah derasnya linimasa Instagram.

"Awalnya hanya coba-coba, tidak ada target besar. Yang penting ada peluang kerja," kenangnya saat berbincang dengan Harian Disway baru-baru ini.

Diceritakan, jauh sebelum mengenakan seragam Dapur MBG, hidupnya bergantung pada pekerjaan yang serba tidak menentu. Ia adalah juru masak rumahan, ahli di bidang katering kecil-kecilan untuk hajatan, sunatan, atau acara keluarga.

BACA JUGA:Anak Dapat MBG, Orang Tua Bisa Hemat Uang Saku Separo Lebih

BACA JUGA:Program MBG di MAN Sidoarjo Bikin Siswa Punya Kesempatan Menabung dan Hemat Rp10 Ribu

"Kerjanya sewaktu-waktu. Nggak tiap hari," ujarnya dengan nada penuh penekanan. "Kalau dulu dapat job belum tentu tiap hari. Kadang cukup, sering kali pas-pasan."

Pemasukan hanya datang jika ada pesanan, dan rezeki bisa berhenti mendadak tanpa pemberitahuan.

Kini, semua sudah berubah. Sejak resmi menjadi bagian dari program MBG, yang oleh internal mereka disebut sebagai Relawan, Faizah merasakan perubahan besar. Proses rekrutmen memang tak instan—membutuhkan waktu tiga minggu, mulai dari pengisian formulir hingga wawancara, ditambah dengan pelatihan intensif sebagai "tenaga penjamah pangan."

Pelatihan ini, yang mencakup detail kebersihan, penyimpanan bahan, hingga prosedur alat dapur, menjadi fondasi utama. Bukan tanpa alasan, Dapur MBG bertanggung jawab menyajikan ratusan hingga ribuan porsi makanan sehat untuk siswa-siswi setiap harinya. Akurasi dan kebersihan adalah harga mati.


PENYAJIAN MBG dilakukan dengan pengawasan ketat terkait kebersihan. Termasuk para relawan yang terlihat dalam penataan makanan.-Dok. SPPG Panjang Jiwo Surabaya-

"Sekarang tiap hari produktif, tiap hari ada pemasukan," ujar Faizah dengan mata berbinar. Ia bekerja delapan jam sehari, disiplin waktu menjadi kunci utama di dapur massal ini.

Meskipun sistem penggajiannya harian dan disesuaikan dengan posisi, kepastian itulah yang menjadi nilai jual utama. Sejak awal, sistem dan nilai honorarium telah dijelaskan transparan saat wawancara. "Kita ditawari dulu. Mau atau tidak. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan," katanya, menegaskan prinsip saling setuju.

Kisah Faizah adalah representasi dari banyak relawan lain di Dapur MBG, yang sebelumnya berstatus pengangguran atau bekerja serabutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: