Ulasan Memoar Aurelie Moeremans, Broken Strings-Kepingan Masa Muda yang Patah: Pecahkan Sunyi, Gugah Penyintas Jadi Berani
SAMPUL buku elektronik Aurelie Moeremans yang memantik diskusi panjang tentang toxic relationship dan pemaksaan pernikahan, Broken Strings-Kepingan Masa Muda yang Patah.--X Indonesian Pop Base
Publik mengenal Aurelie Moeremans sebagai model, bintang film, host, aktivis, dan bahkan penyanyi serta pemain musik. Namun, luka yang dia simpan begitu lama sampai Broken Strings lahir, bisa jadi akan mengubah semua citra itu.
Halaman trigger warning membuka Broken Strings. Sebagai penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) --atau lebih tepatnya kekerasan dalam pacaran (KDP)--, Aurelia tahu benar bahwa bukunya akan membangkitkan banyak memori tidak menyenangkan bagi para pembaca yang senasib dengannya.
“Tolong baca dengan perlahan, sesuai ritme yang membuatmu merasa aman. Berhenti sejenak bila perlu. Keselamatan dan ketenanganmu jauh lebih penting daripada menuntaskan satu bab. Buku ini tidak ditulis untuk membuka luka lama, melainkan untuk memecah sunyi.”
Pembawa Perubahan dalam Keluarga
Gaya bercerita Aurelia dalam bukunya membuat pembaca betah. Sejak lahir, Aurelie adalah pembawa perubahan. Orang tuanya mendadak punya tempat tinggal (apartemen) karena sang nenek, Alida, meninggal dunia beberapa waktu sebelum Aurelie lahir. Karena itulah, nama lengkap putri sulung Jean-Marc Moeremans itu adalah Aurelie Alida Marie Moeremans.
BACA JUGA:Mengenal Tanda Toxic Relationship, Ketika Cinta Tak Lagi Membahagiakan
BACA JUGA:5 Tanda-Tanda Toxic Relationship

AURELIE MOEREMANS meluncurkan memoar tentang kepahitan hidupnya saat terjebak toxic relationship. Publik heboh mencari tahu tokoh-tokoh asli yang menginspirasi penulisan buku tersebut.--Instagram/Aurelie Moeremans-Bigenho
Pada 2007, Aurelie memenangkan ajang pencarian bakat saat liburan ke Indonesia. Tawaran untuk berkarier di industri showbiz Indonesia muncul, dan Aurelie menjadi alasan sang ibu dan sang adik bertahan di Indonesia. Sementara, sang ayah tetap di Belgia.
Perubahan kembali terjadi saat Aurelie berpacaran dengan Bobby. Kali ini, bukan hanya kehidupan keluarganya yang berubah, tapi terutama adalah kehidupan Aurelie.
Terbiasa menyimpan tanya dalam asuhan ayah dan ibu yang tegas dan sibuk bekerja, Aurelie mulai berjarak dengan ibunya saat berpacaran dengan Bobby. Apalagi, orang tua Aurelie sempat mempermasalahkan perbedaan usia mereka yang banyak.
“Aku berusia lima belas tahun saat pertama kali bertemu Bobby. Dan Bobby saat itu sudah mendekati usia dua puluh sembilan tahun.”
BACA JUGA:Kim Soo Hyun Diduga Pacari Kim Sae Ron 6 Tahun, Lakukan Eksploitasi Hingga Grooming
BACA JUGA:5 Kontroversi Liam Payne: Tuduhan Grooming Sampai Paksa Mantan Aborsi
Kalimat yang Aurelie tuliskan di Bab 2: Kita Lihat (halaman 21) itu menjadi gerbang yang mengantarkan pembaca ke episode penuh luka dan air mata perempuan kelahiran 8 Agustus 1993 tersebut.
Masuk Perangkap Manipulator
Sejak awal berpacaran dengan Bobby, Aurelie sebenarnya tidak nyaman. Penyebabnya adalah selisih usia. Alasan itu pula yang membuat Aurelie menciptakan permakluman-permakluman.
“Ia lebih berpengalaman, lebih dewasa, sedangkan aku belum pernah benar-benar berhubungan sebelumnya. Jadi aku bilang pada diri sendiri, aku yang harus mengejar, belajar, minta maaf, jadi lebih baik. Itu jadi kebiasaan. Apa pun yang terjadi, aku yang minta maaf.”
Aurelie dikekang, dikendalikan. Pada zaman itu, Bobby mengendalikan Aurelie lewat ponsel. Gawai tidak boleh mati. Aurelie harus cepat membalas pesan jika tak mau kena marah.
BACA JUGA:Luka dan Keras Kepala di Balik Rumpun Kupu-Kupu Karya 12 Penulis Perempuan
BACA JUGA:Menyulamkan Suara Perempuan Lewat Workshop Sashiko

ANGEL, monyet pantai peliharaan Aurelie Moeremans saat masih bersama mantan pasangannya, menjadi perhatian pembaca. Kebersamaan Aurelie dan Angel diwarnai kepiluan.--Instagram/Aurelie Moeremans-Bigenho
Tahapan berikutnya adalah memerintah, memaksa, mengancam. Ada terlalu banyak adegan makan hati dan sadis yang Aurelie lakukan hanya demi menuruti Bobby.
Kesibukan Aurelie meladeni kemauan Bobby membuatnya kian jauh dari keluarga. Dia pun menjadi terlalu malu dan terlalu takut minta tolong ketika perlakuan Bobby membuatnya menanyakan kewarasan dan harga dirinya sendiri.
Toxic relationship yang Aurelie toleransi itu membuatnya mudah kembali ke pelukan Bobby meskipun orang tuanya pernah berhasil memisahkan mereka. Celakanya, saat kembali bersama Bobby lagi, usia Aurelie sudah 18 tahun, sudah dewasa.
Bobby mengatur pernikahan tanpa persetujuan Aurelie, tanpa restu orang tua, tanpa kursus pranikah, tanpa sakramen tobat, tanpa kanonik. Pernikahan berlangsung superkilat. Detik itu juga, Aurelie langsung menyesali yang terjadi.
BACA JUGA:Meretas Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
BACA JUGA:Perempuan
Hari itu, Aurelie masih pulang ke rumah ibunya karena belum ada surat resmi. Tapi, Bobby membekalinya dengan banyak ancaman. Hati Aurelie hancur demi melihat sang ibu menyambutnya dengan raut cemas karena putrinya terlambat pulang hari itu.
“Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tidak tahu bahwa putrinya baru saja diserahkan diam-diam. Dan aku yang melakukannya. Aku berbohong padanya.”
The Moment of Truth
Menjadi “istri” Bobby membuat Aurelie semakin kehilangan jati dirinya. Dia makin penurut karena hanya dengan cara itu, dia --yang kemudian tinggal bersama Bobby dan keluarganya-- punya tiket untuk bertemu sang ibu.
Menjadi “suami” Aurelie membuat Bobby kian semena-mena. Tak hanya mencaci maki dan membentak, ia juga meludahi Aurelie dalam setiap pertengkaran. Bahkan, ia tak segan menamparnya untuk membungkam kebenaran.
BACA JUGA:Merawat Martabat Perempuan: Literasi sebagai Jalan Emansipasi dan Keadilan Sosial
BACA JUGA:Ratusan Perempuan Masih Rentan, Kerap Jadi Korban Pelecehan
Dunia Aurelie kian kelam. Dia baru melihat cahaya lagi setelah jujur kepada sang ibu tentang kehidupan “rumah tangga”nya. Saat itulah pertolongan datang.
Keberanian tumbuh dalam dada Aurelie. Dia kemudian berani membela dirinya sendiri. Dia juga mulai menceritakan deritanya kepada orang-orang dekatnya. Makin banyak pertolongan datang.
Aurelie bebas. Aurelie menjadi dirinya sendiri.
Original
Memoar ini ditulis sendiri oleh Aurelie. Karena karya aslinya dalam Bahasa Inggris, maka ada beberapa konteks yang kurang pas saat dialihbahasakan. Gaya terjemahan Aurelie (dia menerjemahkan sendiri dalam tiga hari) juga masih berirama Barat.
BACA JUGA:Merawat Martabat Perempuan: Literasi sebagai Jalan Emansipasi dan Keadilan Sosial
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: