Benturan Peradaban

Benturan Peradaban

ILUSTRASI Benturan Peradaban.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

OH, Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat. Kedua ujungnya tak akan bisa bertemu. Sampai langit dan bumi bertemu di depan pengadilan Tuhan…

Itu adalah cuplikan puisi The Ballad of East and West yang ditulis Rudyard Kipling pada 1889. Balada itu menggambarkan pertempuran di Khybar Pass antara Kamal Brigade Afghanistan melawan pasukan Inggris. Balada itu menggambarkan bahwa Barat dan Timur tidak bakal bisa bersatu.

Sampai hari ini, kira-kira 130 tahun setelah Kipling menulis balada itu, Timur dan Barat tetap menjadi seteru yang susah bertemu, seperti minyak dan air yang tidak bakal bisa menyatu.

BACA JUGA:Guru sebagai Arsitek Peradaban

BACA JUGA:Nukleus Peradaban Yahya Staquf

Kipling dikenal sebagai pujangga pembela supremasi ras kulit putih. Melalui karya-karya sastranya, terlihat bahwa ia mengirim pesan kepada dunia bahwa bangsa kulit putih itu bangsa unggul dan bangsa yang paling beradab di dunia.

Kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan bangsa kulit putih di masa lalu bukanlah penjajahan, melainkan misi peradaban. Bangsa kulit putih mempunyai misi peradaban untuk menjadikan bangsa-bangsa lain beradab. 

Dengan melakukan kolonialisme, bangsa kulit putih merasa menunaikan tugas white’s men burden, ’beban bangsa kulit putih’, untuk memperadabkan bangsa-bangsa lain yang masih terbelakang.

BACA JUGA:Bangkit dari Duka, Santri Perkuat Ghirah Berjuang Menuju Peradaban Mulia Mengawal Kemerdekaan

BACA JUGA:PBNU sebagai Peradaban: Sekeras Apa pun Orang NU Bertengkar, Tak Akan Tinggalkan NU

Kemudian, pada 1991 Francis Fukuyama memproklamasikan The End of History and the Last Man. Sejarah telah berakhir dengan kemenangan liberalisme dan kapitalisme Barat atas komunisme-sosialisme Uni Soviet dan negara-negara pendukungnya. 

Menurut Huntington, liberalisme-kapitalisme akan menjadi satu-satunya ideologi dunia karena paling sesuai dengan fitrah manusia.

Samuel P. Huntington yang menjadi guru Fukuyama mengelaborasi tesis baru yang disebutnya sebagai benturan peradaban. Dalam The Clash of Civilization and the Making of New World Order (1992), Huntington mengajukan tesis bahwa benturan dalam bentuk perang di masa depan akan terjadi antar peradaban yang berbeda. 

BACA JUGA:Bahasa sebagai Pembentuk Peradaban (1): Alat Berpikir, Gagasan, dan Bangunan Monumental

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: