Tubuh Bangsa dan Kedaulatan yang Diperjualbelikan: Agreement on Reciprocal Trade (ART)

Tubuh Bangsa dan Kedaulatan yang Diperjualbelikan: Agreement on Reciprocal Trade (ART)

ILUSTRASI Tubuh Bangsa dan Kedaulatan yang Diperjualbelikan: Agreement on Reciprocal Trade (ART).-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

KETIKA guru besar dan civitas academica UGM menyatakan sikap menolak agreement on reciprocal trade (ART), mereka tidak hanya bicara soal pasal-pasal konstitusi atau angka tarif ekspor

Mereka sedang bicara tentang tubuh bangsa, tubuh yang sejak revolusi 1945 dibentuk dari darah, keringat, dan solidaritas rakyat. Tubuh, yang kini lewat (ART), seolah diminta tunduk pada aturan yang ditentukan pihak lain.

Dalam perspektif budaya tubuh, kedaulatan bukan sekadar konsep abstrak, bukan pula sekadar kata besar yang tertulis di UUD. Ia hadir dalam cara tubuh rakyat bekerja, makan, berpakaian, berproduksi, dan berinteraksi. 

ART yang mewajibkan Indonesia mengubah puluhan regulasi merupakan bentuk intervensi langsung pada tubuh bangsa: tubuh birokrasi yang harus menyesuaikan, tubuh ekonomi yang harus menanggung beban, tubuh sosial yang harus menerima konsekuensi.

BACA JUGA:SPS Tolak Perjanjian Dagang RI-AS, Soroti Ancaman Kedaulatan Digital dan Media Nasional

BACA JUGA:Pilkada Langsung: Kedaulatan Rakyat yang Tak Boleh Dirampas

TUBUH SEBAGAI SIMBOL KEDAULATAN 

Sejak awal, tubuh bangsa Indonesia dipahami sebagai tubuh yang merdeka, tubuh yang tidak boleh diatur kolonialisme. Kedaulatan bukan sekadar kata besar di konstitusi. Ia hadir dalam cara rakyat bekerja, makan, dan berinteraksi. 

Pernyataan sikap guru besar, akademisi, dan civitas academica Universitas Gadjah Mada, mengingatkan kita pada warisan itu: tubuh bangsa harus tetap tegak, tidak boleh dipaksa menunduk. Namun, dalam konteks globalisasi, tubuh bangsa tidak lagi berdiri sendiri. 

Ia berinteraksi, bersentuhan, bahkan bernegosiasi dengan tubuh bangsa lain. Tetapi, dalam dunia yang saling terhubung, kita tidak lagi berdiri sendiri. Sama dengan petani yang dulu bebas menanam apa saja, kini harus menyesuaikan dengan permintaan pasar. 

BACA JUGA:Ketika Kedaulatan Terkangkangi di Pintu Masuk Udara RI, Siapa Bertanggung Jawab?

BACA JUGA:Kedaulatan Data RI: Menjaga Kerahasiaan Negara atau Komoditas Geopolitik?

Kemudian,  apakah interaksi itu otomatis melemahkan tubuh kita atau justru bisa memperkuat otot-otot baru yang sebelumnya tidak terlatih?

ART menuntut Indonesia mengamandemen puluhan UU, PP, hingga perpres. Dari perspektif budaya tubuh, itu seperti memaksa seseorang menjalani diet ketat yang ditentukan orang lain. Tubuh bisa jadi lebih ramping, tetapi apakah sehat? Apakah sesuai dengan metabolisme tubuh kita sendiri? 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: