Bahaya! Infeksi Gigi Berlubang Bisa Menjalar ke Jantung dan Otak
Scalling Gigi Dapat Mencegah Adanya Gigi Berlubang-ArtPhoto_Studio-Freepik
HARIAN DISWAY - Gigi berlubang kerap dianggap sebagai masalah sepele. Bahkan, penderitanya sering menunda-nunda pengobatan. Padahal, jika dibiarkan tanpa ditambal, gigi berlubang bisa memicu infeksi serius yang menjalar jauh melampaui rongga mulut.
Cleveland Clinic menuliskan bahwa infeksi dari abses gigi bisa menyebar hingga ke jantung. Kondisi yang cukup jarang itu dikenal dengan nama endokarditis.
Selain ke jantung, infeksi juga bisa menjalar ke otak dalam bentuk meningitis bakteri. Kondisi tersebut bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa pun yang menunda perawatan gigi berlubang. Itu karena bakteri dari gigi yang membusuk bisa masuk ke pembuluh darah lalu menempel di jaringan jantung yang rusak.
Berikut penjelasan lengkap mengapa gigi berlubang yang dibiarkan bisa berujung pada komplikasi yang mengancam nyawa.
BACA JUGA:6 Obat Herbal Atasi Sakit Gigi
BACA JUGA:5 Manfaat Scaling Gigi Rutin 6 Bulan Sekali yang Sayang Dilewatkan
Bagaimana Infeksi Gigi Bisa Menjalar

RAJIN menggosok gigi menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi bakteri.-Greta Hoffman-Pexels
Gigi berlubang yang tidak segera ditambal akan terus mengalami kerusakan jaringan hingga bakteri menembus lapisan dalam gigi.
Ketika ini terjadi, bakteri dapat berkumpul membentuk kantong nanah atau abses di sekitar akar gigi maupun gusi. Jika abses ini dibiarkan, bakteri tidak akan berhenti di satu titik.
Bakteri dari abses gigi punya kemampuan berpindah ke tulang rahang, jaringan lunak wajah dan leher, bahkan menembus ke aliran darah. Begitu berada di pembuluh darah, bakteri dapat berpindah ke organ mana pun, termasuk jantung dan otak.
Ancaman pada Jantung: Endokarditis
Salah satu komplikasi paling serius dari infeksi gigi yang menyebar adalah endokarditis, yaitu peradangan pada lapisan dalam jantung.
BACA JUGA:Ini 7 Perlengkapan Wajib untuk Merawat Gigi Sehari-hari di Rumah
BACA JUGA:Jangan Tunggu Sakit, Menjaga Kesehatan Gigi Adalah Investasi untuk Anak dan Orang Dewasa
Menurut Mayo Clinic, endokarditis terjadi ketika bakteri atau kuman lain masuk ke aliran darah dan menempel pada bagian jantung yang sudah mengalami kerusakan, seperti katup jantung yang cacat atau lemah.
American Heart Association menyatakan bahwa kebersihan mulut yang buruk menjadi salah satu penyebab utama endokarditis infektif, di samping cedera ringan pada gusi akibat menyikat gigi dan prosedur perawatan gigi tertentu.
Sejumlah kelompok berisiko tinggi mengalami komplikasi ini, di antaranya:
- Orang dengan kelainan jantung bawaan
- Pemilik katup jantung buatan atau alat pacu jantung
- Orang dengan sistem imun lemah
- Pengguna obat suntik dalam jangka panjang
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa bakteri asal rongga mulut ditemukan pada 26 hingga 45 persen kasus endokarditis infektif. Sedangkan, bakteri streptokokus mulut menyumbang lebih dari 20 persen kasus secara keseluruhan.
BACA JUGA:4 Manfaat Menginang, Praktik Kuno untuk Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
BACA JUGA:4 Peran Besar Sayur untuk Menjaga Kesehatan Gigi dan Gusi
Ancaman pada Otak
Selain jantung, otak juga menjadi organ yang rentan terdampak jika infeksi gigi dibiarkan berlarut-larut. Bakteri dari rahang atau sinus dapat berpindah ke otak dan rongga tengkorak, memicu terbentuknya abses otak atau menyebabkan pembekuan darah yang dikenal sebagai trombosis sinus kavernosus.
Gejala yang perlu diwaspadai ketika infeksi sudah mengarah ke otak antara lain sakit kepala hebat dan terus-menerus, demam, leher kaku, kebingungan, hingga gangguan fungsi saraf. Kondisi ini tergolong kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan rumah sakit segera.
Bukan Hanya Jantung dan Otak

GIGI yang tidak dirawat bisa memicu penyakit gusi. -Towfiqu barbhuiya-Pexels
Infeksi gigi yang dibiarkan menyebar juga berpotensi memicu komplikasi lain di berbagai bagian tubuh. Antara lain:
- Sepsis, yakni infeksi sistemik yang membuat sistem imun bereaksi berlebihan dan bisa mengancam nyawa.
- Ludwig's Angina, atau infeksi yang menyebar cepat dan bisa menyumbat saluran napas.
- Osteomielitis, alias infeksi pada tulang di sekitar gigi yang terinfeksi.
- Selulitis, atau infeksi pada kulit dan jaringan lemak di bawahnya.
BACA JUGA:Jangan Anggap Remeh Kebiasaan Tak Gosok Gigi Sebelum Tidur
BACA JUGA:Kenali Mitos dan Fakta Pemutihan Gigi untuk Senyum yang Cerah
Kenali Tanda Peringatan Sejak Dini
Penanganan gigi berlubang sejak awal jauh lebih mudah dan murah dibandingkan menangani komplikasi yang sudah menyebar. Segera periksakan diri ke dokter gigi apabila muncul tanda-tanda berikut:
- Nyeri gigi berdenyut yang tidak kunjung reda.
- Gusi bengkak disertai keluarnya nanah.
- Demam disertai wajah atau leher bengkak.
- Kesulitan menelan atau bernapas.
Jika gejala di atas disertai demam tinggi, kebingungan, atau sesak napas, segera cari pertolongan medis darurat karena bisa jadi infeksi sudah menyebar ke luar rongga mulut.

MERAWAT GIGI secara rutin menunjang kesehatan tubuh dan organ dalam.-kaboompics.com-Pexels
Cegah Sebelum Terlambat
Menariknya, hubungan antara kesehatan gigi dan jantung ternyata bekerja dua arah. Semakin rutin merawat gigi dan mulut, semakin rendah pula risiko gangguan jantung di kemudian hari.
BACA JUGA:Sikat Gigi Saja Tidak Cukup, Saatnya Biasakan Flossing
BACA JUGA:Menjaga Kesehatan Gigi: Kenali Jenis-jenis Perawatan dan Manfaatnya
American College of Cardiology bahkan mencatat bahwa kunjungan rutin ke dokter gigi dan perawatan gigi yang baik berkaitan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah.
Menambal gigi berlubang sejak dini, rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan, serta menjaga kebersihan mulut menjadi langkah sederhana yang bisa mencegah risiko besar di kemudian hari.
Jangan tunggu sampai gigi berlubang membuat masalah baru muncul pada organ lain.
Sudah berapa lama gigi berlubangmu belum ditambal? Mungkin ini saatnya membuat janji ke dokter gigi terdekat sebelum masalahnya makin membesar. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: diolah dari berbagai sumber