Aturan Anyar Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim (1) : Proyek Gantikan Skripsi, Tetap Ada Laporan

Aturan Anyar Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim (1) : Proyek Gantikan Skripsi, Tetap Ada Laporan

MERAMPUNGKAN SKRIPSI, Riviera Michelle (kiri) dan Agustinus Francisco berdiskusi di kantor Harian Disway.-Boy Slamet-Harian Disway-

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim bikin gebrakan anyar. Ini menyangkut kebijakan Merdeka Belajar. Salah satu poinnya, kompetensi kelulusan mahasiswa tak melulu diukur lewat skripsi.

KEBIJAKAN itu tertuang dalam Permendikbud Ristek No 53 tahun 2023 yang terbit pada Jumat, 18 Agustus 2023. Bahkan, sudah mulai diberlakukan sekarang. Yang cukup bikin heboh adalah pasal 19 ayat a dan b. 

Bahwa skripsi tak lagi menjadi satu-satunya syarat lulus kuliah. Ada opsi alternatif yang disediakan. Yakni bisa dalam bentuk proyek, prototipe, atau tugas akhir lainnya. Berlaku bagi mahasiswa D-4 dan S-1, yang sarjana akademik maupun terapan.

“Kalau perguruan tinggi merasa memang masih perlu skripsi atau yang lain itu adalah haknya mereka. Jadi jangan lupa reformasinya,” kata Nadiem saat rapat bersama Komisi X DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu, 30 Agustus 2023.

Di sejumlah negara, sudah diterapkan ketentuan serupa sejak lama. Bahkan mahasiswa hanya membuat jurnal untuk meraih gelar doktoralnya. Tentu dengan tetap menjamin kualitas perguruan tinggi.
 

Itulah yang mulai diterapkan di sistem pendidikan kampus di Indonesia. Perubahan ketentuan kompetensi lulusan tidak akan menurunkan kualitas. “Jadi jangan keburu senang dulu, hahaha. Tolong dikaji dulu. Itu haknya tetap di masing-masing perguruan tinggi,” jelas pendiri GoJek itu.
 

MAHASISWA UNIVERSITAS Negeri Surabaya berjalan melintasi area kampus di Ketintang. Mendikbud Ristek mengeluarkan kebijakan untuk menjaga kompetensi lulusan.-Ahmad Rijaludin Erlangga-Harian Disway-

Lantas bagaimana kampus negeri dan swasta menyambut kebijakan ini? Rektor Universitas Airlangga Prof Mohammad Nasih mengapresiasi kebijakan itu. Menganggapnya sebagai langkah terobosan yang bagus.

“Karena, pertama, kompetensi itu bergantung pada keinginan mahasiswa mau jadi apa kelak. Toh, nggak semua pengin jadi akademisi atau ilmuwan,” jelasnya saat dihubungi, Rabu, 30 Agustus 2023. Mahasiswa yang bercita-cita jadi pengusaha, tentu tidak perlu bergelut terlalu lama untuk membuat skripsi. Begitu juga yang ingin menciptakan perusahaan rintisan (start-up) di berbagai sektor.

Unair pun sudah lama menjalankan kebijakan serupa. Mahasiswa di kampus terbaik ke-345 dunia itu tidak lagi dibebani dengan skripsi sejak tahun lalu. Tetapi, kompetensi kelulusannya diganti dengan Tugas Akhir (TA).

Kedua, sebetulnya skripsi maupun berbasis proyek itu tak beda jauh. Skripsi bisa menjadi medium bagi mahasiswa untuk memetakan masalah. Berpikir logis dan ilmiah. Mengidentifikasikan sekaligus mencari solusi atas suatu masalah. 
 

Tentu berbasis data yang ditemukan di lapangan maupun teori dari berbagai sumber. Bahkan dilatih membuat hipotesis untuk dibuktikan di lapangan. “Nah, sama-sama belajar juga. Yang penting, lulusan kita ajari memecahkan masalah,” tandas Prof Nasih. 

Begitu pula yang berbasis proyek, prototipe, dan sejenisnya. Mahasiswa yang bikin aplikasi tentu sangat bagus. Sebagai bukti usahanya serius dalam memecahkan masalah. 

Demikian yang cukup mengumpulkan TA. Misalnya dari hasil selama magang di dunia kerja. “Semuanya bagus. Bikin aplikasi atau TA hasil magang boleh, asal dilaporkan dalam tulisan. Harus ditulis juga narasinya,” tandasnya.
 

MAHASISWA BARU yang menjadi peserta PPKMB Universitas 17 Agustus 1945 akan menjalani kuliah yang dikemas untuk menjaga kompetensi mereka sebagai sarjana.-Akhyar-Harian Disway-

Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Prof Mulyanto Nugroho bernada sama. Selama ini, hanya mahasiswa jurusan teknik yang sudah tidak dibebani skripsi. Melainkan cukup setor TA.
 

Ke depan, kebijakan itu juga akan diterapkan untuk seluruh mahasiswa. Baik dari rumpun ilmu sosial, humaniora, maupun sains. “Arahnya bisa berbasis proyek atau prototipe. Secara kualitas, itu lebih applicable. Tentu harus bikin laporannya,” tegasnya.

Kemendikbud Ristek memang menyerahkan sepenuhnya opsi itu ke masing-masing kampus. Namun, Prof Nugroho masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari kementerian. Agar lebih gamblang bila diterapkan nanti. Yang terpenting, agar kualitas kompetensi lulusan terus meningkat.

Lain halnya di Universitas Negeri Malang (UM). Mahasiswa bisa lulus tanpa bikin skripsi sejak 2017. Asal punya prestasi tingkat nasional maupun internasional. “Kami menggunakan kurikulum berbasis kehidupan. Semua karya ilmiah yang minimal level nasional ekuivalen dengan skripsi,” ujar Rektor UM Prof Hariyono. 

Sudah banyak mahasiswa dari berbagai yang membuktikannya. Ada yang meraih medali SEA Games 2022, ada yang menulis di jurnal bereputasi, bahkan ada yang merancang mobil hemat energi.

 

Mereka bisa lulus otomatis tanpa repot bikin skripsi. Sebab, semua karya mereka dianggap sebagai kompetensi tertinggi. Namun, kata Prof Hariyono, dalam kebijakan baru ini sangat diperlukan kontrol. “Sekali lagi, supaya kualitas lulusan tidak menurun. Semua asosiasi pendidikan sebaiknya bertemu untuk merumuskan kriteria-kriteria kompetensi tersebut,” tandasnya. (Mohamad Nur Khotib)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: