Kenapa Alergi Debu Lebih Gampang Kambuh Saat Musim Hujan? Ini 6 Penyebab Utamanya
Alergi debu makin sering kambuh saat musim hujan karena kelembapan meningkat dan memicu berbagai alergen di dalam rumah.-istock-
HARIAN DISWAY - Musim hujan membawa udara yang lebih segar dan terasa bersih. Namun, bagi sebagian orang, justru di periode inilah alergi debu lebih sering kambuh dan mengganggu aktivitas harian.
Gejala seperti bersin berulang, hidung meler, hidung tersumbat, serta mata berair menjadi keluhan yang meningkat saat udara terasa lembap.
Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya mengapa alergi debu justru makin sering muncul saat musim hujan.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut penjelasan lengkap mengenai lima penyebab utama alergi debu saat musim hujan.
BACA JUGA:Musim Hujan Datang, 6 Kebiasaan Kecil yang Bisa Menjaga Imun tetap Stabil
BACA JUGA:Puncak Musim Hujan Tiba, Cegah Penyakit Demam Berdarah Dengan Langkah-Langkah Ini
1. Kelembapan Tinggi Memicu Lonjakan Populasi Tungau Debu

KELEMBAPAN tinggi saat musim hujan membuat tungau debu berkembang lebih cepat dan memicu kambuhnya alergi.-istock-
Musim hujan membawa peningkatan kelembapan udara, terutama di dalam ruangan yang kurang ventilasi. Kelembapan yang tinggi membuat tungau debu berkembang biak lebih cepat.
Tungau debu biasanya hidup di kasur, bantal, sofa, karpet, dan benda berbahan kain lainnya.
Saat populasinya meningkat, partikel mikroskopis dari tubuh dan kotorannya menyebar ke udara dan memicu reaksi alergi pada orang yang sensitif.
2. Pertumbuhan Jamur Lebih Aktif di Tempat Lembap

Lingkungan rumah yang lembap saat hujan mempercepat pertumbuhan jamur dan meningkatkan risiko alergi.-istock-
Saat hujan turun, dinding, lantai, atau sudut rumah dapat menjadi lembap, terutama jika tidak terkena cahaya matahari langsung. Kondisi ini mendorong pertumbuhan jamur yang melepaskan spora ke udara.
BACA JUGA:Simak! Ini Tujuh Cara Cegah Flu di Musim Penghujan
Spora jamur merupakan salah satu pemicu alergi yang cukup kuat. Tanpa disadari, spora dapat terhirup ketika seseorang berada di dalam ruangan yang sirkulasinya buruk.
3. Debu Menumpuk Akibat Minimnya Pertukaran Udara

PERTUKARAN udara saat hujan sangat minimal sehingga debu terperangkap di dalam rumah dan mudah memicu reaksi alergi.-istock-
Saat udara dingin masuk, sebagian besar orang akan menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Kebiasaan ini memang membuat ruangan terasa hangat, tetapi juga menjebak debu di dalam.
Debu yang tertahan akan terus berputar di ruang yang sama dan semakin mudah terhirup. Situasi ini membuat gejala alergi lebih mudah muncul pada saat rumah jarang terkena aliran udara dari luar.
4. Aktivitas di Dalam Ruangan Meningkat dan Memicu Paparan

BERCENGKERAMA di dalam rumah saat musim hujan meningkatkan paparan alergen seperti debu dan tungau.-istock-
Musim hujan membuat banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah. Alhasil, paparan terhadap alergen seperti debu, tungau, dan jamur menjadi lebih intens.
BACA JUGA:Musim Hujan, Waspadai Penyakit Leptospirosis yang Mematikan
BACA JUGA:Hati-Hati! 6 Penyakit Kulit yang Menyerang di Musim Hujan dan Tip Perawatannya
Aktivitas sehari-hari seperti menyalakan AC, menggoyangkan selimut, atau membuka bantal dapat membuat partikel debu kembali terangkat ke udara. Semakin sering terpapar, semakin besar potensi alergi kambuh.
5. Ruangan menjadi Lebih Sulit Dikeringkan

RUANGAN yang sulit kering saat musim hujan menjadi tempat ideal bagi alergi berkembang dan memperparah alergi debu.-istock-
Kondisi rumah yang lembap tidak hanya memicu jamur, tetapi juga membuat benda-benda seperti karpet, sofa, dan tirai sulit benar-benar kering. Material yang lembap menjadi tempat ideal bagi alergen untuk berkembang.
Kelembapan yang bertahan lama juga membuat debu lebih mudah menempel pada permukaan kain. Ketika permukaan tersebut disentuh atau digerakkan, partikel debu dapat terangkat dan memicu reaksi alergi.
Cara Sederhana Mengurangi Risiko Alergi Kambuh
Meskipun alergi debu lebih mudah kambuh saat musim hujan, ada beberapa langkah praktis untuk meminimalkan risikonya.
BACA JUGA:Kemenkes Bagikan 5 Cara Agar Terhindar dari Penyakit saat Musim Hujan Tiba
BACA JUGA:Enggak Rumit! Ini 7 Tips Menjaga Kesehatan Saat Musim Hujan
Penggunaan dehumidifier atau penurun kelembapan dapat membantu menjaga kelembapan ruangan tetap stabil.
Membersihkan rumah secara rutin, mencuci sprei seminggu sekali, dan memastikan ventilasi tetap aktif juga dapat membantu.
Selain itu, membuka jendela saat cuaca memungkinkan membantu pertukaran udara dan mengurangi konsentrasi debu.
Mengeringkan area yang lembap, mengecek potensi pertumbuhan jamur, serta menjemur kasur secara berkala bisa menjadi langkah tambahan yang efektif.
BACA JUGA:Musim Hujan, IDAI Ingatkan Peningkatan Risiko Penyakit Diare Pada Balita
BACA JUGA:Waspada 7 Penyakit pada Musim Hujan, Ada Asma Hingga Malaria
Meskipun sederhana, kebiasaan ini dapat benar-benar membantu mengurangi gejala alergi selama musim hujan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Jika gejala alergi semakin sering kambuh atau tidak kunjung membaik, pemeriksaan ke tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan. Pemeriksaan alergi membantu mengetahui pemicu utama secara spesifik.
Penanganan medis yang tepat juga dapat membantu mengontrol gejala. Terlebih jika alergi sudah mengganggu kualitas tidur atau aktivitas harian, diagnosis dini sangat disarankan.
Alergi debu memang lebih mudah kambuh saat musim hujan karena perubahan kelembapan dan kondisi rumah yang semakin lembap.
BACA JUGA:Penting! Dokter Militer Hisnindarsyah Jelaskan Manfaat Mandi Air Hangat Setelah Kehujanan
BACA JUGA:Perbedaan Flu dan Alergi serta Cara Menanganinya
Populasi tungau, pertumbuhan jamur, dan penumpukan debu menjadi faktor utama yang memperburuk keadaan. Dengan mengenali penyebabnya, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat.
Menjaga kebersihan dan sirkulasi udara rumah merupakan kunci utama untuk mengurangi risiko alergi selama musim hujan. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: diolah dari berbagai sumber