MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar

MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar

ILUSTRASI MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

REZIM bisa berdiri tegak karena martabat. Namun, rezim bisa runtuh dan tergerogoti oleh martabat. Apalagi kalau pemimpinnya rajin berpidato soal harga diri bangsa. Soal kedaulatan bangsa yang implementasinya adalah soal kedaulatan energi, pangan, dan sederetnya. Itu akan diuji oleh ucapannya sendiri.

Martabat adalah harga diri, harkat, atau nilai luhur yang melekat pada setiap manusia sejak lahir, menjadikannya berhak atas penghormatan, perlakuan etis, dan hak dasar tanpa memandang keadaan. 

Ia merupakan konsep etika, hukum, dan moral yang menuntut pengakuan akan kemanusiaan seseorang. 

Maka, di mana letak dan hubangan program MBG (Makan Bergizi Gratis) dengan martabat ?

Mari kita telusuri satu per satu.

BACA JUGA:Pendidikan dan Penguatan Karakter Berbasis MBG

BACA JUGA:Bukber versus MBG: Antara Gizi, Tradisi, dan Nalar Negara

Martabat pertama. Suatu pagi, menemani Prof Reza Tirtawinata, direktur Akademi Buah Nusantara (ABN), mendatangi beberapa sekolah penerima manfaat MBG di suatu desa (12 km) dari pusat kota Jombang. 

Anak-anak SD antusias menikmati menu makan siang itu. Ada ayam, sedikit sayur, dan buah. Meski buah kelengkeng impor yang tidak segar, mereka menikmati. Kata gurunya, tiap hari anak-anak antusias. Maklum, mereka jarang sarapan. 

Maka, saat istirahat pukul 10.00, mereka menikmati sajian yang diletakkan di ompreng. Itu suatu kehormatan jika dibandingkan dengan nasi bungkus dengan karet pengikat. 

Anak-anak bahagia, makan dengan terhormat, bergizi, dan gratis. Lebih terhormat daripada dulu ibunya antre menerima beras raskin. Anak-anak dusun itu diam-diam gizinya meningkat. 

BACA JUGA:MBG: Antara Nutrisi dan Krisis Keamanan Pangan

BACA JUGA:Pengaruh Implementasi MBG terhadap Makroekonomi Daerah Sebelum dan Sesudah Program Berjalan

Coba bandingkan dengan anak-anak SD di kota (apalagi, sekolah unggulan). Banyak yang terang-terangan menolak karena martabat, merasa rendah? Karena itu, mereka memilih makan siang yang disediakan di sekolah dengan pola prasmanan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: