Ramadan Kareem 2025 (24): Ramadan, Aku Berguru kepada Ibrahim

Senin 24-03-2025,05:00 WIB
Reporter : Suparto Wijoyo *)
Editor : Heti Palestina Yunani

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (20): Mencari Surabaya saat Ramadan

Makkah merupakan kota kesaksian yang paling inti bagi Nabi Ibrahim dalam merumuskan laku ajaran sebagai seorang yang lurus, Muslim dan tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik (Q.S. Ali Imran: 67). 

Betapa hebatnya Nabi Ibrahim sebagai nabi sekaligus orang tua yang melahirkan peradaban untuk merekonstruksi rumah ibadah (baitullah), sampai pada tatanan Ritual Haji serta Kurban.

Hubungan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mencerminkan pendidikan yang paripurna dengan tertib administratifnya. Seluruh sisik-melik pengelolaan kehidupan diajarkan dengan pengorganisasi pemikiran yang komprehensif.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (19): Ngaji Multifungsi TNI

Dibuatlah kodivikasi-kodivikasi aturan perikehidupan sebagai tatanan norma hidup. Semangat membukukan aturan kehidupan dalam kitab-kitab Nabi Ibrahim AS bersahutan waktu dan menginspirasi Nabi Musa, yang juga merumuskan sebuah kitab hukum sebagi panduan hidup umatnya.

Formulasi-formulasi historis yang berupa Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandemants) dan lingkup pewahyuan yang dialaminya di Gunung Sinai semakin memberikan bobot prosesi “positivisme hukum”. 

Kalau saya membaca Al-Qur’an Surat Al-A’la ayat 18 dan 19 saja (di samping puluhan ayat yang mengisahkan Nabi Ibrahim) telah memberikan informasi pembelajaran luar biasa mengenai pembangunan hukum dalam kerangka Illahiyah maupun kenabian Ibrahim dan Musa AS.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (18): Banjir yang Terundi

Renungkanlah dan teruslah menyimak semisal ayat inna haazaa lafish-shuhufil-uulaa (sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu), yaitu shuhufi ibroohiima wa muusaa (kitab-kitab Ibrahim dan Musa). 

Dalam lingkup seperti ini, orang hukum dapat mengarungi pemikiran-pemikiran era Nabi Ibrahim maupun Nabi Musa dalam melakukan gerakan pengodifikasian hukum.

Bukankah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa memberikan panduan berupa kitab-kitab? Suatu bentuk paling spektakuler untuk merekonstruksi pemahaman tentang hukum positif, bukan hanya sebatas pemikiran John Austin, Hans Kelsen, maupun sejawatnya.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (17): Belajar Takwa Semesta

Bahkan pelacakan pada positivisme di masa Hammurabi sangatlah penting, dan Kitab Suci dapat menjadi referensi utama. Khusus untuk Al-Qur’an adalah kitab berfikir yang segalanya sangat logik-argumentatif bagi umat Islam. Kitab yang sangat nalar.

Penelusuran jejak-jejak pemikiran sampai pada ajaran Nabi Ibrahim yang digunakan sebagai rujukan paling otoritatif dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw mengenai ibadah haji dan arti maknawai prosesi berkurban, merupakan ruang yang menyediakan kesempatan bagi siapa saja yang mau mempelajarinya.

Keluasan dan kemampuan Nabi Ibrahim memadukan antara ketaatan, pemikiran, perjanjian, cinta kasih, dan pengorbanan secara harmonis, sungguh menjadi ladang penggalian ilmu pengetahuan dalam spektrum yang mencakrawala.

Kategori :