Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Untung, Ada Mijn Roots (65)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Untung, Ada Mijn Roots (65)

Pendiri Mijn Roots Ana Maria (kanan) bertemu Meilany dan Ilse di Surabaya.-Dok Ana Maria -

Meilany sempat meminta bantuan acara TV Belanda Spoorloos untuk pencarian orang tua kandungnyi. Acara itu mempertemukan banyak keluarga yang terpisah. Bertahun-tahun kerja sama dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Meilany tak patah arang.

MEILANY melihat organisasi bernama Stichting Mijn Roots di Facebook pada 2017. Isinya adalah orang yang punya nasib sama: anak adopsi Indonesia yang ingin bertemu keluarga kandung.

Pendirinya juga anak adopsi Christine Verhaagen dan Ana Maria van Valen. Christine menetap di Belanda, sedangkan Ana di Surabaya. Dua perempuan itu bagai ujung pangkal jembatan bagi 3.040 anak adopsi yang kangen ”rumah”.

Meilany mempelajari Mijn Roots dan berusaha mengontak para pendirinya. Sembari menunggu respons, dia mempelajari yayasan itu lebih dalam.

Dalam sekejap, dia sudah bisa menilai bahwa Mijn Roots benar-benar tempat paling tepat untuk pencarian orang tua kandung. Tidak ada misi cari untung. Sebab, semua orang di dalamnya adalah anak-anak adopsi yang saling membantu.

Tidak seperti acara TV yang terkesan hanya mementingkan rating. Dan, sebetulnya itu wajar dalam dunia bisnis. 

Ketika melihat banyak postingan Mijn Roots, ada banyak anak adopsi yang dipertemukan. Optimisme makin tumbuh.

Meilany kemudian mengirim salinan surat adopsinyi ke Mijn Roots. Ana dan Christine berkolaborasi dengan para pencari (searcher) yang semuanya orang Indonesia. Mereka dipekerjakan secara profesional, tetapi tetap dalam misi sosial. 

Siapa yang menyangka, dalam kurun waktu tiga bulan, sudah ada kabar dari Mijn Roots. Tim pencari sudah menemukan alamat orang tua yang dia cari: yakni alamat Amini dan Atemon di Kabupaten Pasuruan. 

Setelah mengetahui informasi itu, jantung Meilany berdebar. Bayangan akan tempat lahirnyi mulai terbayangkan. Dia tak mengira pencarian bisa secepat itu.

Meilany kemudian menerima foto sepasang suami istri yang diduga orang tua kandungnyi: Amini dan Atemon.

Setelah beberapa hari, Meilany berkoordinasi dengan Ana untuk tes DNA. Tim pencari kembali ke Pasuruan. Namun, prosesnya tak semudah yang dibayangkan. Amini dan Atemon enggan memberikan sampel liurnya.

Penolakan sering terjadi. Alasannya bisa beragam. Yang paling umum, mereka khawatir dengan tes itu. Seumur hidup mereka belum pernah melakukannya.

Kesulitan itu juga kami temui saat mengantar Bob Schellens mencari orang tuanya di Surabaya. Putri mendiang Suhadak takut memberikan sampel liurnyi. Dia takut hasilnya dipakai untuk kejahatan. Sebab, dia tak mengenal kami sama sekali.

Kemungkinan lain adalah mereka sudah tahu bahwa hasil DNA-nya tidak mungkin cocok. Takut kebenaran terbongkar.


Foto masa kecil Meilany di dokumen adopsinyi.-Dok Meilany-

Untuk kasus Meilany, kemungkinan kedua itulah yang terjadi. Amini sebenarnya sudah tahu bahwa Meilany bukan anak kandungnyi. Dia merawat Meilany dari RSIA Panca Dharma ketika dia jadi tukang bersih-bersih di sana. 

Meilany terlahir dari hubungan gelap. Ibu kandungnyi tak merawat Meilany setelah lahir. Sementara itu, ayahnyi tak bertanggung jawab. Mungkin, terjadi penolakan dari pihak keluarga.

Dan benar saja, ketika hasil tes DNA diungkapkan, hasilnya tidak cocok. Meilany terkejut. 

Untuk kali sekian, tes DNA yang difasilitasi Mijn Roots tidak cocok. Hal itu makin memperkuat upaya pengaburan fakta lewat pemalsuan dokumen adopsi. 

Ada banyak alamat orang tua sudah ditemukan. Namun, DNA tak bisa berbohong. Mereka tak bisa mengaku-ngaku sebagai keluarga kandung anak adopsi itu.

Setelah mengetahui hasil tes DNA, Meilany mulai putus asa. Ibu empat anak itu merasa kertas-kertas dokumen yang dia miliki tidak ada artinya lagi.

Ana lalu menawarkan tes ulang. Siapa tahu, hasil tes pertama invalid seperti yang bisa terjadi pada tes Covid-19 itu. Kesalahan teknis mungkin terjadi di laboratorium. 

Tes kedua, hasilnya tidak berubah. Mereka bukan orang tua kandung Meilany. Mulanya, Meilany masih sering melakukan kontak melalui video call dengan keluarga Amini. Setelah dua kali tes DNA, hubungan mereka mulai merenggang. (*)

Proses Adopsi ke Belanda. BACA BESOK!



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: