Ramadan Kareem 2025 (28): Merekam Sundayana Nan Tirtasewana

Mudik adalah gerakan kolosal yang spektakuler sekaligus mistis dalam ritme pengajarann batin kaum perindu kampung halaman. --iStockphoto
Inilah saat kegemparan kosmologis ngudoroso yang rekam jejaknya dapat berandai mula di Sitinggil, Modo, Lamongan, ketika Nyi Ageng Andongsari “nrimo ing pandum” dari Raden Wijaya di Gunung Putri.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (24): Ramadan, Aku Berguru kepada Ibrahim
Sang Joko Modo tumbuh perkasa, di usia 19 tahun (1319) kariernya menonjol sebagai Adika Bayangkari yang mampu menumpas makar Damaputra pimpinan Ra Kuti.
Keberhasilannya berbuah manis dengan jabatan Patih Kahuripan (1319-1321) dan Patih Daha (1321-1331) hingga posisi puncak Kemahapatihan 1331-1364: Patih Mangkubumi Majapahit yang mengemban trisula fungsional-birokrasi: Perdana Menteri, Panglima Perang, dan Penganjur Nusantara.
Roda kenegaraan mutlak ada dalam genggam Gajah Mada yang loyal dan berintegritas melalui Sumpah Palapa yang sangat kondang kaloko dan menggema pengucapannya di Balai Manguntur, tempat Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan di tahun 1331.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (23): Menjemput Kebaruan
Sumpah Palapa merupakan garis politik kenegaraan penyatuan Nusantara sebagaimana dirintis oleh Kertanegara di lembar negara Singasari. Kesetiaan Gajah Mada kepada trah Raden Wijaya adalah contoh pribadi berdedikasi.
Peristiwa pembunuhan Jayanegara oleh dokter istana, yaitu Ra Tanca di tahun 1328, yang kemudian “diamankan” oleh Gajah Mada agar takhta dilanjutkan Tribuana merupakan sisik melik yang menarik ditilik.
Dalam rentang PM Gajah Mada menjabat inilah hadir Pakuwon Pajajaran menjelma menjadi Kerajaan di 1333, nyaris setarikan dengan penyatuan Bali di 1334, saat Hayam Wuruk dilahirkan.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (22): Merawat Air
Hayam Wuruk dididik dengan kecakapan prima mengemban mandat Dampar Kencono tahun 1350 dengan sematan gelar Rajasanegara. Baginda Hayam Wuruk membuat Majapahit moncer atau meminjam bahasa Syahrini, cetar membahana, menjadi imperium “Macan Asia” 1350-1370.
Jalan Sunda di Surabaya selain ada Jalan Prabu Siliwangi. --
Raja perjaka ini tahun 1357 saatnya berpendamping wanita unggul dan jelita, maka “pansel” dibentuk untuk melakukan “seleksi nasional” dan terpilihlah Citrasymi alias Diyah Pitaloka.
Dialah Mojang Priangan, anak kinasih bermartabat terhormat, Raja Pajajaran. Pinangan terhadap Putri Kerajaan Pasundan Baru dilangsungkan dan rotasi romantika digelar atas nama cinta yang membentang asa dari Majapahit bertaut di Tatar Sunda.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (21): Tepukan Sang Resi
Gumparan bahagia mengkristal dalam imaji sejoli yang dibalut “hangatnya kelambu asmara” dengan ikutan agenda pertautan dua negara yang akan semakin mencakrawala kekuasannya. Sepertautan kisahnya laksana “formasi cinta” manunggale Ratu Saba dengan Raja Sulaiman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: